Showing posts with label masakan dan minuman. Show all posts
Showing posts with label masakan dan minuman. Show all posts

Thursday, September 10, 2009

Kue Lapis Legit



Kue lapis legit (spekkoek) sebagai pelambang datangnya rezeki yang berlapis-lapis dan saling tumpang tindih di tahun yang akan datang, sehingga dengan demikian bisa dapat merasakan kehidupan yang lebih lebih manis dan lebih legit lagi.

Kue lapis legit yang sering juga disebut sebagai “Thousand Layer Cake”, walaupun memang benar menggunakan mentega dari Belanda (roomboter), tetapi orang-orang di Belanda nya sendiri, mereka tidak mengenal kue itu. Mungkin perkataan “spek” ini diambil dari bahasa Belanda yang berarti lapisan lemak babi (bacon = bahasa Inggris), karena bentuknya mirip spek.

Cincau



Cincau (Hanzi: 仙草, pinyin: xiancao) adalah gel serupa agar-agar yang diperoleh dari perendaman daun (atau organ lain) tumbuhan tertentu dalam air. Gel terbentuk karena daun tumbuhan tersebut mengandung karbohidrat yang mampu mengikat molekul-molekul air.

Kata "cincau" sendiri berasal dari dialek Hokkian sienchau (Hanzi: 仙草, pinyin: xiancao) yang lazim dilafalkan di kalangan Tionghoa di Asia Tenggara. Cincau sendiri di bahasa asalnya sebenarnya adalah nama tumbuhan (Mesona spp.) yang menjadi bahan pembuatan gel ini.

Cincau paling banyak digunakan sebagai komponen utama minuman penyegar (misalnya dalam es cincau atau es campur). Dilaporkan juga cincau memiliki efek penyejuk serta peluruh (diuretik).

Proses pembuatan

Proses pembuatan diawali dengan perendaman, yang biasanya dilakukan setelah daun diremas-remas atau dihancurkan. Ada juga yang menyertakan perebusan terlebih dahulu. Pemberian soda kue dapat dilakukan sebagai pengawet. Warna cincau bermacam-macam, berkisar dari hijau hingga hijau pekat, bahkan hitam, namun disertai dengan kesan tembus pandang (transparan). Konsistensinya juga berbeda-beda. Warna dan konsistensi cincau berbeda-beda karena tumbuhan yang dipakai berbeda-beda.


Tumbuhan penghasil cincau

Tumbuhan penghasil cincau bermacam-macam, di antaranya adalah :

* Tumbuhan dari genus Mesona, terutama M. procumbens, M. chinensis yang banyak diproduksi di Tiongkok bagian selatan serta Indocina, atau M. palustris (dikenal dengan nama lokal Janggelan) yang banyak digunakan di Indonesia, menghasilkan cincau hitam

* Cylea barbata Myers atau cincau hijau, menghasilkan cincau berwarna hijau dan agak lebih padat konsistensinya

* Melasthoma polyanthum atau cincau perdu. "Buah" (secara botani bukan buah, tetapi syconia) Ficus pumila (fikus rambat) di Tiongkok juga digunakan sebagai bahan jenis cincau lain yang disebut "pai-liang-fen"dan diperdagangkan sebagai grass jelly (sama seperti cincau) atau ai-yu jelly.

Cincau hijau

Tumbuhan cincau hijau (C. barbata Myers.) merambat, daun berwarna hijau pucat dengan rambut di atas permukaannya. Selain sebagai penghasil cincau, ekstrak tumbuhan ini mengandung zat anti-protozoa, tetrandine, suatu alkaloid, khususnya terhadap penyebab malaria Plasmodium falciparum.

Kue Bulan



Kue bulan (Hanzi: 月餅, pinyin: yuèbǐng) adalah penganan tradisional Tionghoa yang menjadi sajian wajib pada perayaan Festival Musim Gugur setiap tahunnya. Di Indonesia, kue bulan biasanya dikenal dalam dialek Hokkian-nya, gwee pia atau tiong chiu pia.

Kue bulan tradisional pada dasarnya berbentuk bulat, melambangkan kebulatan dan keutuhan. Namun seiring perkembangan zaman, bentuk-bentuk lainnya muncul menambah variasi dalam komersialisasi kue bulan.

# Asal mula

Kue bulan bermula dari penganan sesajian pada persembahan dan penghormatan pada leluhur di musim gugur, yang biasanya merupakan masa panen yang dianggap penting dalam kebudayaan Tionghoa yang berbasis agrikultural.

Perkembangan zaman menjadikan kue bulan berevolusi dari sesajian khusus pertengahan musim gugur kepada penganan dan hadiah namun tetap terkait pada perayaan festival musim gugur tadi.

Beberapa legenda mengemukakan bahwa kue bulan berasal dari Dinasti Ming, yang dikaitkan dengan pemberontakan heroik Zhu Yuanzhang memimpin para petani Han melawan pemerintah Mongol. Zhu Yuanzhang dan rakyat Han merencanakan untuk mengambil alih pemerintahan. Zhu bingung memikirkan bagaimana cara menyatukan rakyat untuk memberontak pada hari yang sama tanpa diketahui oleh pemerintah Mongol.

Salah seorang penasehat terpercayanya akhirnya menemukan sebuah ide. Sebuah berita disebarkan bahwa akan ada bencana besar yang akan menimpa negeri Tiongkok dan hanya dengan memakan kue bulan yang dibagikan oleh para pemberontak dapat mencegah bencana tersebut. Kue bulan tersebut hanya dibagikan kepada rakyat Han, yang akan menemukan pesan “Revolusi pada tanggal lima belas bulan delapan” pada saat membukanya.

Karena pemberitahuan itu, rakyat bersama-sama melakukan aksi pada tanggal yang ditentukan untuk menggulingkan Dinasti Yuan. Dan sejak saat itu kue bulan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Perayaan Pertengahan Musim Gugur.

Namun sebenarnya, kue bulan telah ada tercatat dalam sejarah paling awal pada zaman Dinasti Song. Dari sini, kue bulan dipastikan telah populer dan eksis jauh sebelum Dinasti Ming berdiri.

# Kategori

* menurut cara pembuatan: Guangdong, Beijing, Taiwan, Hongkong, Chaozhou.
* menurut rasa: manis, asin, pedas
* menurut isi: kuning telur, tausa (kacang merah), buah-buahan, kacang hijau, es krim
* menurut bahan kulit: tepung gandum, gula dan es

Pembuatan kue bulan di Indonesia pada dasarnya berasal dari gaya pembuatan Guangdong dan Chaozhou. Juga ada lokalisasi dengan cara pencampuran bahan-bahan yang mudah didapatkan di Indonesia, semisal daun pandan sebagai perasa.

Dan masih banyak kategori-kategori lainnya hasil inovasi gaya pembuatan kue bulan gaya baru di pasaran.

Tuesday, September 8, 2009

Misoa



Misoa atau misua ( Hanzi tradisional: 麵線 Hanzi sederhana: 面线 ) adalah mi halus dan tipis dari tepung terigu. Mi ini berwarna putih, dan selalu dijual dalam bentuk kering. Misoa tidak sama dengan sohun.

Sebelum dipakai untuk berbagai masakan, misoa direndam sebentar di dalam air panas. Misoa digoreng seperti halnya mi goreng atau dipakai sebagai campuran sup. Teksturnya yang lembut membuat misoa sering dipakai dalam resep masakan untuk balita, anak-anak, dan orang lanjut usia.

Masakan yang memakai misoa adalah masakan Cina, Taiwan, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Filipina. Di Indonesia, misoa juga dibuat kue-kue goreng atau perkedel misoa.

Misoa kuah dengan usus babi (大腸麵線, bahasa Taiwan: tōa-tn̂g mī-sòaⁿ) atau misoa kuah dengan tiram (蚵仔麵線; bahasa Taiwan: ô-á mī-sòaⁿ) adalah makanan populer yang dijual kedai-kedai pinggir jalan di Taiwan.

Secara tradisional, misoa dibuat secara manual dengan memilin dan menarik adonan mi hingga menjadi berhelai-helai mi yang panjang. Dalam kebudayaan Cina, misoa melambangkan umur panjang. Oleh karena itu, misoa dimasak sebagai hidangan istimewa pada hari ulang tahun dan berbagai hari perayaan.

Orang Tionghoa-Indonesia memakan misoa di hari ulang tahun bersama telur ayam rebus yang diberi pewarna merah.Di Taiwan, misoa kuah dengan kaki babi adalah hidangan istimewa pada hari ulang tahun atau dimakan sebagai hidangan pembuang nasib sial.

Lumpia



Lumpia atau kadangkala dieja sebagai lun pia (Hanzi: 潤餅, hanyu pinyin: run bing) adalah sejenis penganan tradisional Tionghoa. Lumpia sendiri adalah dialek Hokkian dari pelafalan runbing dalam dialek Utara. Makanan tradisional tionghoa ini dalam bahasa Inggris disebut spring roll dan bisa dijumpai juga di Vietnam, Filipina, dan Indonesia. Hanya di Filipina dan di Indonesia saja kudapan ini disebut lumpia. Di Vietnam disebut cha gio, sedang dalam bahasa Mandarin namanya adalah chun yuan – kadang-kadang diucapkan seperti chun juan atau chun cuen. Penamaan spring roll menurut etimologi berasal dari tradisi menyantap kue gulung (roll) ini pada Hari Raya Imlek yang juga lazim disebut Spring Festival. Ini adalah terjemahan langsung dari chun (musim semi) dan yuan (gulung).

Di Indonesia, lumpia terkenal sebagai makanan khas Semarang, tentunya cara pembuatan dan bahan-bahannya sudah mengalami lokalisasi.

Di Jakarta ada lumpia yang mirip dengan lumpia semarang, tetapi rebungnya diganti bangkuang. Lumpia Jakarta hampir selalu tampil dalam versi goreng. Cocolannya sambal kacang yang mirip dengan sambal untuk nasi uduk.

Di Bogor ada lumpia bakar yang sangat unik. Isinya mirip lumpia jakarta – yaitu bangkuang, ebi, telur – tetapi ditambah potongan tahu. Bentuknya seperti bantal segi empat, berukuran besar. Lumpia bogor dipanggang di atas besi panas, sehingga menghasilkan citarasa yang khas.

Di Medan, jenis lumpia yang populer disebut popiah – yaitu lumpia basah berukuran besar. Popiah bukan lagi jajanan atau kudapan, melainkan sudah merupakan makanan utama karena porsinya yang besar. Popiah berasal dari suku Hokchia. Kulitnya seperti lumpia, tetapi lebih lebar. Isinya sangat kaya antara lain adalah: kepiting, udang, rebung, orak-arik telur, remukan kacang tanah, dan lain-lain.

Di kalangan masyarakat keturunan Indonesia di Negeri Belanda, lumpia juga merupakan jajanan populer. Karena di sana sulit mendapat rebung atau bangkuang, biasanya diisi dengan tauge, orak-arik telur, dan irisan ham.

Berbagai kreativitas pedagang makanan di Indonesia menampilkan lumpia berisi tauge, potongan kentang rebus, dan lain-lain. Di Indonesia kita juga punya jajanan bernama dadar gulung yang secara penampilan mirip lumpia. Dibuat dari semacam serabi tipis dari tepung beras atau terigu, biasanya memakai daun suji agar berwarna hijau, diisi dengan unti yang terbuat dari parutan kelapa dimasak dalam gula kelapa, kemudian digulung membentuk paket.

Di dunia memang ditemukan berbagai sajian yang mirip lumpia. Samosa yang umum dijumpai di India dan negara-negara Timur Tengah juga mirip lumpia, tetapi berbentuk tetrahidral dengan kulit yang lebih tebal, sehingga lebih renyah. Samosa diisi dengan kentang atau kambing cincang berbumbu kari.

Di Turki, dan juga negara-negara di sekitar Laut Tengah, ada semacam kebab yang digulung dalam roti tipis dan disebut durum kebab alias kebab gulung. Shawarma, jenis kebab lain yang dikemas dalam roti pita seperti kantung juga akhirnya tampil mirip lumpia atau burrito.

Burrito atau taco yang asal Meksiko juga mirip lumpia secara bentuk dan konsep. Kemiripan burrito atau taco dengan lumpia membuat orang-orang Spanyol dan Meksiko menyebut lumpia sebagai tacos chinos.

Burrito dan taco adalah dua istilah yang dapat saling dipertukarkan. Kalau besar disebut burrito, kalau kecil dinamai taco. Pembungkusnya disebut tortilla, yaitu roti tipis yang dibuat dari gandum atau tepung jagung. Tortilla lebih tebal daripada kulit lumpia. Di atas tortilla diatur semua bahan isian, lalu digulung membentuk paket seperti lumpia. Pada umumnya, isi burrito adalah kacang merah (refried beans), irisan daging panggang (sapi atau ayam), guacamole (bubur alpukat), dan salsa (sambal tomat). Nasi goreng Meksiko juga sering dipakai sebagai isi untuk menggantikan refried beans. Ada juga yang isinya hanya refried beans dengan keju yang dilelehkan.

Burrito atau taco biasa disajikan sudah dalam bentuk tergulung. Tetapi, hampir semua sajian Meksiko selalu disajikan dengan tortilla. Artinya, tortilla diisi dengan lauk-pauk dan kemudian menggulungnya. Tortilla juga bisa dimakan seperti roti pendamping hidangan utama.

Di Tiongkok sendiri justru tidak terlalu sering dijumpai lumpia. Yang paling sering justru ketemu kulit bebek peking yang garing renyah digulung dalam roti tipis dengan irisan ketimun, daun bawang, dan saus plum. Mirip lumpia, tetapi bukan lumpia.

Di Hong Kong, lumpia goreng merupakan salah satu sajian dim sum yang populer. Lumpia goreng juga sering tampil sebagai hidangan pembuka di restoran-restoran di Hong Kong.

Masyarakat Vietnam menggunakan lumpia sebagai makanan sehari-hari. Yang paling terkenal bagi wisatawan adalah cha gio yang artinya lumpia babi cincang. Ukurannya kecil-kecil, sebesar jempol orang dewasa. Dapat dimakan sebagai hidangan pembuka, dengan cocolan sambal manis dari cabe merah dan bawang putih. Biasanya, supaya tidak terlalu machtig, cha gio dibungkus dulu dengan daun selada sebelum dicocol sambal dan disantap.

Di Vietnam, hampir semua sajian dihidangkan dengan banh trang (kulit lumpia, terbuat dari tepung beras atau tepung singkong) – mirip dengan tortilla yang menyertai hampir semua sajian Meksiko. Di meja makan tertebar piring-piring berisi bihun, berbagai jenis sayur, dan masakan daging atau ikan. Banh trang dibasahi dengan semprotan air, diisi dengan isian yang disukai, kemudian digulung seperti popiah.

Siomai



Siomai atau siomay adalah salah satu jenis dim sum. Dalam bahasa Mandarin, makanan ini disebut shaomai, sementara dalam bahasa Kanton disebut siu maai. Dalam dialek Beijing, makanan ini juga ditulis sebagai 燒麥, dan juga dibaca shaomai. Kulit siomai adalah serupa dengan kulit pangsit. Makanan ini konon berasal dari Mongolia Dalam.

Dalam resep masakan Cina, siomai adalah daging babi cincang yang dibungkus kulit yang tipis dari tepung terigu. Walaupun demikian, siomai juga dibuat dari udang, daging kepiting, atau daging sapi. Siomai dibuat berbentuk silinder, dan di atasnya diberi hiasan seperti telur kepiting, parutan wortel, atau kacang polong. Setelah dimatangkan dengan cara dikukus, siomai dimakan dengan cuka atau kecap asin.

Dalam masakan Indonesia terdapat berbagai jenis variasi siomai berdasarkan daging untuk isi, mulai dari siomai ikan tenggiri, ayam, udang, kepiting, atau campuran daging ayam dan udang. Bahan untuk isi dicampur dengan sagu atau tapioka. Siomai juga tidak lagi dibungkus dengan kulit dari tepung terigu.

Telur ayam dan sayuran seperti kentang, peria, dan kubis dengan isi atau tanpa isi juga dihidangkan di dalam satu piring bersama-sama siomai. Tahu bakso (tahu isi) juga termasuk ke dalam jenis siomai.

Siomai (siomai bandung) dihidangkan setelah disiram saus kacang yang dibuat dari kacang tanah yang dihaluskan dan diencerkan dengan air. Bumbu untuk saus kacang antara lain cabai, gula pasir, bawang putih, garam dapur, dan cuka atau jeruk limau. Sewaktu disajikan, siomai bisa diberi tambahan kecap manis, sambal botol, atau saus tomat.

Lontong Cap Go Meh



Lontong Cap Go Meh adalah makanan khas Jawa yang mengambil nama Tionghoa. Makanan ini berbentuk lontong yang diberi opor dan sambal goreng lengkap. Lontong ini sebenarnya bukan hanya dimakan bersamaan pada perayaan Cap Go Meh, namun telah menjadi makanan sehari-hari di kalangan masyarakat Jawa.

Cap Go Meh sendiri adalah sebuah acara ritual dalam rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek.Ia dirayakan tepat di bulan purnama, karena Cap Go Meh memang berarti perayaan purnama raya di tanggal 15.

Full set dari lontong cap go meh biasanya terdiri dari lontong, ayam opor, ayam abing, sambel goreng ati ampela, lodeh terong/labu, telor pindang, bawang merah goreng.

Lontong :
Melambangkan bulan purnama yang bulat bundar, melambangkan kebulatan dan kebersihan hati dari warna putih yang dihasilkan dari bahannya.

Ayam Opor:
Makna warna kuning diasosiasikan dengan emas, yang berkonotasi kemakmuran dan kemakmuran.

Sambel Goreng Ati Ampela:
Warna merah mencorong sambel goreng ati ampela dengan jelas menyiratkan warna wajib perayaan Imlek dan segala sesuatu yang dipercaya oleh orang Tionghoa.

Telor Pindang:
Jelas juga bahwa telor di manapun juga melambangkan rejeki, murah rejeki, kemakmuran, harapan baik, segala sesuatu yang baik.

Lodeh Terong atau Labu:
Ini pelengkap dari hidangan ini semua, warna putih, dengan labu atau terong sebagai sayurnya, melambangkan harapan baik juga, labu atau terong, suatu harapan dan cita-cita yang baik, warna putih yang menyiratkan lembaran baru di tahun yang baru.

Ayam Abing :
Abing dalam bahasa jawa yaitu sangat merah.Sesuai namanya yang “sangat merah” menyimbolkan makna yang sama dengan sambel goreng ati tadi di atas, warna khas perayaan Imlek, dan masakan ini merupakan kemewahan tersendiri di saat menyambut Tahun Baru Imlek.

Mie



Mi atau mie adalah adonan tipis dan panjang yang telah digulung, dikeringkan, dan dimasak dalam air mendidih. Istilah ini juga merujuk kepada mi kering yang harus dimasak kembali dengan dicelupkan dalam air.

Penemuan Mie

Majalah Nature Inggris pernah memuat laporan tentang penemuan dan penelitian mi 4.000 tahun yang lalu di tempat peninggalan keluarga La. Laporan yang diberi judul " Mie Sekoi Akhir Zaman Batu Baru Tiongkok" itu segera mengundang perhatian besar seluruh dunia. Dengan ditemukannya mie ribuan tahun lalu itu terbuktilah bahwa mie berasal dari Tiongkok. Hal ini diberitakan secara luas oleh berbagai media di dunia.

Tempat peninggalan keluarga La adalah situs sebelum Masehi zaman kebudayaan keluarga Qi, sekitar 4.000 tahun yang lalu, luasnya sekitar 200.000 meter persegi, terletak di Desa Keluarga La, perbatasan propinsi-propinsi Qinghai dan Gansu Tiongkok barat laut, di bagian hulu Sungai Kuning. Tempat peninggalan keluarga La digali secara resmi pada musim panas tahun 2000. Karena di situs itu masih terdapat banyak bekas-bekas bencana alam seperti gempa bumi, banjir Sungai Kuning serta serangan air bah, maka di sana disebut juga situs bencana sebelum Masehi yang sangat berharga, dikenal juga sebagai "Kota Pompeii di Timur".

Penggalian tempat peninggalan keluarga La dilanjutkan pada bulan September sampai Desember tahun 2002. Pada suatu hari, para arkeolog menemukan sebuah alat tembikar yang terbalik di sudut timur laut tempat peninggalan keluarga La. Alat tembikar yang masih terpelihara baik itu adalah sebuah mangkok berdiameter sekitar 20 sentimeter, tinggi belasan sentimeter, di bagian luar yang berwarna merah oranye itu terdapat larik-larik biru muda. Ketika mangkok itu diangkat, di tanah tempat mangkok itu terletak ada semacam barang seperti mie. Penemuan yang menggembirakan ini segera difoto sebagai catatan fakta yang teramat berharga.

Meskipun barang itu mirip sekali dengan mie, tapi siapapun tidak berani mengatakan bahwa itu adalah mie. Pada kenyataannya, barang itu tersimpan kurang baik, yang masih tinggal hanya lapisan luar yang tipis sekali, ada yang sudah rusak akibat erosi, tapi bentuk keseluruhannya masih dapat dikenal dengan agak jelas: warna kuning, penampang lintang berbentuk bundar, tengahnya kosong akibat erosi, dan tertempel di tanah. Dilihat dari bentuknya yang melingkar-lingkar dapat dipastikan adalah barang panjang yang halus.

Mie terbuat dari Sekoi

Contoh itu dibawa pulang oleh tim arteologi ke Beijing untuk dipastikan melalui pengujian analisa, apakah barang itu mie atau bukan. Kalau terbukti barang itu mengandung unsur bahan pangan, maka pastilah barang itu adalah mie. Namun berhubung materi menyerupai mie itu sudah mengalami erosi sama sekali, maka lenyap ketika dibuka kembali. Untunglah, gambar-gambar foto pada waktu pertama bisa dijadikan bukti. Untuk memastikan apakah barang itu adalah mie, harus dipastikan apakah ada unsur materi mie dalam tanah. Setelah mengadakan kontak dengan ahli dari Institut Geologi dan Geofisika Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, para tenaga arteologi akhirnya dapat mengadakan pengujian analisa laboratorium atas penemuan itu. Melalui serangkaian pengambilan contoh dan perbandingan, ahli penilai
mendapatkan bahwa materi dalam mie tersebut klop dengan sekoi dan beras kuning, dan secara kuantitas terutama adalah sekoi dan selebihnya beras kuning. Boleh dikatakan semangkok mie itu terbuat dari sekoi. Hasil ini juga diluar dugaan masyarakat.

Daerah Aliran Sungai Kuning dan daerah Tiongkok utara adalah tempat penghasil asli kedua jenis tanaman tersebut. Tiongkok adalah negara yang pertama membudidayakan kedua jenis tanaman itu, dan sudah berumur 8.000 tahun lebih. Hal ini sudah diakui oleh dunia. Kemudian gandum didatangkan ke Tiongkok, khususnya seiring dengan perkembangan irigasi pertanian, penanaman gandum berangsur-angsur menggantikan sekoi dan beras kuning menjadi tanaman bahan pangan utama di Tiongkok. Hasil penyelidikan menunjukkan, di Tiongkok terdapat beberapa tempat, terutama daerah-daerah terpencil yang sampai sekarang masih menggunakan sekoi untuk membuat mie.

Kericuhan Tentang Mie Akhirnya Reda

Tentang asal usul mie dan siapa pembuat mie yang pertama adalah masalah kontroversial sejak dulu. Orang Italia menyatakan orang Romawi Kuno yang pertama membuat makanan mie. Konon pada zaman Kaisar, kota Roma menggunakan mie yang dijemur kering untuk menyelesaikan masalah suplai makanan di kota itu. Sedangkan orang Arab menganggap mie adalah ciptaan kawasan Timur Tengah, dan mereka sebarkan ke Italia. Daerah aliran sungai Tigris-Euphrates di Semenanjung Arabia adalah tempat asal penanaman gandum. Sampai adanya penemuan di situs keluarga La pada tahun 2002, barulah terbukti oleh benda-benda arkeologi bahwa Tiongkok adalah tempat yang paling awal pencipta mie. Dengan demikian, padamlah pertikaian tentang asal usul mie tersebut. Sementara itu, penemuan tersebut menunjukkan pula bahwa tanaman bahan pangan tradisional Tiongkok, yaitu sekoi dan beras kuning, juga dapat menciptakan budaya makanan mie yang ajaib dan kaya.

# Keanekaragaman

Mi adalah nama generik. Orang Eropa menyebut pasta (dari bahasa Italia) secara generik, dan noodle (bahasa Inggris) untuk pasta yang berbentuk memanjang. Namun begitu, di Eropa bahan baku mi biasanya dari jenis-jenis gandum, sementara di Asia bahan baku mi lebih bervariasi. Di Asia sendiri, pasta yang dibuat selalu berbentuk memanjang. Berbagai bentuk mi dapat ditemukan di berbagai tempat. Perbedaan mi terjadi karena campuran bahan, asal-usul tepung sebagai bahan baku, serta teknik pengolahan. Berikut ini adalah jenis-jenis mi (dan makanan dari mi) yang cukup dikenal.

* Bihun -- mi asal Tiongkok, dibuat dari bahan baku tepung beras
* Dangmyeon -- mi Korea, dari tepung ubi jalar
* Fettuccine -- mi asal Italia, mirip spageti, pipih dan lebih halus daripada linguine
* Ifu mie -- mi asal Tiongkok, tepung terigu (gandum)
* Kwetiaw -- mi asal Tiongkok, tepung beras
* Linguine -- mi asal Italia mirip spageti, pipih dan lebih halus
* Makaroni -- mi asal Italia, dipotong pendek-pendek, melengkung dan berlubang di tengahnya
* Memil guksu -- mi Korea, dari buckwheat, sama dengan soba
* Mi Cina -- mi asal Tiongkok, tepung terigu
* Misoa -- mi asal Tiongkok, terbuat dari tepung terigu
* Mi instan
* Mi sagu, tepung sagu
* Olchaengi guksu -- mi Korea dari tepung jagung, berasal dari provinsi Gangwon-do di Korea Selatan
* Ramen -- mi kuah dari Jepang
* Reshteh -- mi telur segar asal Timur Tengah
* Soba -- mi kecoklatan dari Jepang, dari tepung buckwheat
* Somyeon - mi Korea dari tepung gandum yang sangat tipis, mirip dengan sōmen
* Soun -- mi asal Tiongkok, dari tepung kacang hijau
* Spageti -- mi asal Italia
* Spätzle -- mi asal selatan Jerman dengan kuning telur
* Udon -- mi asal Jepang, tepung terigu
* Wai Wai -- mi asal India

Bakcang



Bakcang atau bacang (Hanzi: 肉粽, hanyu pinyin: rouzong) adalah penganan tradisional masyarakat Tionghoa. Kata 'bakcang' sendiri adalah berasal dari dialek Hokkian yang lazim dibahasakan di antara suku Tionghoa di Indonesia.

Bakcang menurut legenda pertama kali berasal dari tokoh Qu Yuan (343--289 SM). Qu Yuan adalah sastrawan terkemuka dari Kerajaan Chu. Bukunya sangat laris dan terkemuka, salah satunya Chun Tzu (Ratapan Negeri Tzu) dan Li Sao (Menapaki Kesedihan). Selain itu, ia juga dikenal sebagai menteri yang terpercaya dan setia.

Kerena popularitas itu, rekan-rekannya menjadi iri dan berusaha menyingkirkan dia. Rekannya adalah para penjilat kekuasaan yang bermanis-manis di depan raja dan berusaha menjatuhkan Kerajaan Chu dan lebur dalam Kerajaan Chin. Qu Yuan tidak mau ikut dengan konspirasi itu sehingga ia makin dibenci rekan-rekannya.

Pada suatu kesempatan, para menteri menekan tim dokter untuk menyatakan pantang garam bagi raja yang sedang sakit. Akibatnya raja menjadi makin sakit dan hanya bisa terbaring. Mengetahui adanya komplotan ini, Qu Yuan diam-diam membungkus garam dalam daum bambu dengan empat kerucut, lalu menggantung bungkusan itu di langit-langit ranjang raja dengan maksud agar garam itu menetes sedikit demi sedikit di atas mulut raja supaya kesehatan raja pulih lagi.

Ketika hal itu diketahui, Qu Yuan malah dituduh meracuni raja. Karena tidak mau berurusan dengan pengadilan, lalu ia bunuh diri dengan menceburkan diri ke Sungai Mi Lou. Mendengar berita ini rakyat menjadi sedih dan mencari jenazah Qu Yuan. Mereka juga melemparkan nasi yang dibungkus dengan bambu kerucut empat untuk dimakan ikan agar tidak mengigit tubuh Qu Yuan. Mereka juga menabuh genderang di perahu untuk mengusir roh-roh naga jahat yang bisa mengganggu roh Qu Yuan.

Peristiwa ini dikenang tiap tahun dengan perayaan Peh Chun (bacang). Perayaan ini ditandai dengan perlombaan perahu naga (dragon boat) yang diawaki sekitar dua puluh orang pendayung yang duduk berpasangan dan mendayung mengikuti ritme genderang dan tradisi ini juga ditandai dengan makan bacang.

Bakcang dengan keempat kerucutnya melambangkan empat kata Qu-Yuan-Setia-Percaya. Bakcang adalah lambang penghormatan karakter terpercaya dan orang percaya malah tidak dipercaya dan bahwa orang setia malah didakwa. Bakcang adalah ungkapan tentang kepercayaan dan kesetiaan.

Bakcang secara harfiah berarti cang yang berisi daging, namun pada prakteknya, cang juga ada yang berisikan sayur-sayuran atau yang tidak berisi. Yang berisi sayur-sayuran disebut chaicang dan yang tidak berisi biasanya dimakan bersama dengan serikaya atau gula disebut kicang.

Bakcang dibuat dari beras ketan sebagai lapisan luar; daging, jamur, udang kecil, seledri dan jahe sebagai isi. Ada juga yang menambahkan kuning telur asin. Untuk perasa biasanya ditambahkan sedikit garam, gula, merica, penyedap makanan, kecap dan sedikit minyak nabati.

Tentunya yang tidak kalah penting adalah daun pembungkus dan tali pengikat. Daun biasanya dipilih daun bambu panjang yang harus dimasak terlebih dahulu untuk detoksifikasi. Bakcang biasanya diikat berbentuk prisma segitiga.

Monday, September 7, 2009

Bebek Peking




Bebek Peking (bahasa Mandarin: 北京烤鸭, pinyin: beijing kaoya) adalah makanan tradisional di Tiongkok yang berasal dari Beijing.

Catatan mengenai asal usul hidangan bebek peking dapat terlihat jejaknya pada masa Dinasti Utara dan Selatan, ketika “memasak bebek” tertera dalam karya sastra. Beberapa ratus tahun kemudian, Husihui, seorang ahli masak untuk Kaisar Mongol pada masa Dinasti Yuan, menulis mengenai bebek panggang pada bukunya (A.D. 1330) : " Bebek panggang adalah kenikmatan sebuah perjamuan. "

Makanan bebek Peking ini juga ditemui di Taiwan, dibawa oleh pemerintahan nasionalis Kuomintang yang kalah perang saudara dan mundur ke Taiwan tahun 1949.

Bebek Peking orisinal (bebek Peking di Beijing) dibuat menggunakan daging bebek khusus diternakkan untuk makanan ini. Bebek-bebek digemukkan dengan cara memberikan makanan bergizi, pada saat bebek-bebek kekenyangan, peternak-peternak mungkin saja memasukkan makanan ke dalam kerongkongan sang bebek secara paksa. Ini yang kemudian menjadikan bebek Peking juga dikenal dengan nama bebek isi.

Bebek tadi disajikan setelah dipanggang dengan kayu-kayu bakar khusus yang akan menentukan wangi atau tidak bebek yang dipanggang tadi.

Bakpao



Bakpao (Hanzi: 肉包, hanyu pinyin: roubao) merupakan makanan tradisional Tionghoa. Dikenal sebagai bakpao di Indonesia karena diserap dari bahasa Hokkian yang dituturkan mayoritas orang Tionghoa di Indonesia.

Bakpao sendiri berarti harfiah adalah baozi yang berisi daging. Baozi sendiri dapat diisi dengan bahan lainnya seperti daging ayam, sayur-sayuran, serikaya manis, selai kacang kedelai, kacang azuki, kacang hijau,dan sebagainya, sesuai selera. Bakpao yang berisi daging ayam dinamakan kehpao.

Kulit bakpao dibuat dari adonan tepung terigu yang setelah diberikan isian, lalu dikukus sampai mengembang dan matang. Pao itu berati "bungkusan", Bakpao berarti "Bungkusan-bak" , bak itu artinya daging. Untuk membedakan bakpao tanpa daging (vegetarian) dari bakpao berdaging biasanya di atas bakpao diberi titikan warna.

Sejarah Bakpao sendiri berasal dari salah satu bagian kecil dari roman terbaik sepanjang masa, Sānguó Yǎnyì :

Zhuge Liang (181 - 234) adalah salah satu ahli strategis terbaik China, juga sebagai perdana menteri, insinyur, ilmuwan, dan penemu legendaris bakpao. Cerita ini berawal pada zaman tiga negara (sam kok) ketika terjadi pemberontakan besar-besaran di daerah selatan Tiongkok, perdana menteri Tiongkok saat itu, Zhuge Liang meminta izin kepada kaisarnya, Liu Chan untuk menumpas pemberontakan di selatan itu, terkenal dengan sebutan ‘The Southern Campaign’ - Suku selatan itu disebut juga ‘Nanman’ atau ‘orang barbar dari selatan’. Raja di daerah selatan yang memberontak itu bernama Meng Huo.

Tak lama setelah Liang sampai di daerah selatan itu, Liang sudah mengalahkan Meng Huo 7 kali dan membebaskan 7 kali juga, dimana pada saat pembebasan ketujuhnya Meng Huo akhirnya menyerah dan berjanji tidak akan memberontak lagi kepada Shu Guo (saat itu belum ada sebutan Zhong Guo karena Tiongkok masih terpecah menjadi tiga negara: Shu, Wu, Wei).

Setiap kali membebaskan Meng Huo, Zhuge Liang selalu ditentang oleh jenderal-jenderalnya:
“Kenapa dia dibebaskan ? Bagaimana jika dia memberontak lagi ? ”, Liang dengan tenang menjawab: “ Aku dengan mudah dapat menangkapnya kembali semudah mengeluarkan tanganku dari saku. Kini aku sedang mengalahkan hatinya. "

Zhuge Liang tahu jika Meng Huo ditangkap dan dibunuh, akan ada pengganti Meng Huo lainnya dan memberontak ke Shu, karena itu dia pikir lebih baik membuat pemimpin daerah selatan yang berpengaruh ini berpihak kepadanya dan Meng Huo bisa memimpin daerah selatan untuk setia kepada Shu.

Pada peperangan yang terakhir, yang ketujuh kalinya, Zhuge Liang membuat Meng Huo masuk ke lembah yang dikelilingi pegunungan. Dilembah itu Liang menaruh kereta pengangkut makanan. Ketika melihat kereta itu, Meng Huo langsung tertarik dan memimpin pasukannya masuk ke lembah itu.

Setelah pasukan Meng Huo mendekati kereta pengangkut makanan itu, ternyata kereta itu tidak berisi makanan melainkan bubuk mesiu! Langsung saja pasukan Shu yang sudah menunggu di kaki gunung memanah kereta-kereta yang penuh bubuk mesiu itu dengan panah api. Terjadi ledakan besar-besaran di lembah itu, dan dalam sekejap lembah itu menjadi lautan api yang menewaskan hampir semua pasukan Meng Huo.

Kemenangan ini tidak membuat Liang senang, ia hanya agak menyesali : “Jasaku sangat besar kepada negara, namun dosaku juga sangat besar kepada Surga; semoga Surga berkenan
mengampuniku karena aku hanya menjalankan kewajiban menjaga keamanan negara.” Setelah kejadian ini, Meng Huo kembali ditangkap pasukan Liang.

Ketika Liang menemui Meng Huo, ia langsung melepaskan ikatan tali Meng Huo dan berkata :
“Silahkan Anda pergi lagi dan mempersiapkan pasukan baru anda untuk bertarung kembali. ” Mendengar itu Meng Huo terharu dan berkata: “ Tujuh kali tertangkap, tujuh kali juga dibebaskan! Kejadian seperti ini seharusnya tidak pernah dan tidak akan terjadi!! Meskipun aku tidak punya adat istiadat, aku masih punya upacara keagamaan yang masih menjunjung etika. Tidak, aku tidak sehina itu! " Setelah kejadian ini, suku selatan tidak pernah memberontak lagi kepada Shu.

Ketika dalam perjalanan akan kembali ke Cheng Du (ibu kota Shu), Zhuge Liang harus melewati sungai besar. Di sungai itu Liang tertahan karena selalu saja ada gelombang besar dan badai ketika pasukan Shu akan menyeberang. Zhuge Liang kemudian meminta pendapat Meng Huo yang ikut mengantar Liang dan Meng Huo berkata: “Sejak zaman nenek moyang kami, orang yang ingin melewati sungai itu harus melemparkan 50 kepala manusia untuk persembahan kepada roh sungai. ”

Karena Liang tidak mau membuat pertumpahan darah lagi, ia membuat kue yang menyerupai kepala manusia: bulat namun rata didasarnya, dan kue ini disebut bakpao (baozi).

Cap Cai



Cap Cai (Hanzi: 雜碎, hanyu pinyin: za sui) adalah dialek Hokkian yang berarti harfiah "aneka ragam sayur". Cap Cai adalah nama hidangan khas Tionghoa yang populer yang khas karena dimasak dari banyak macam sayuran. Jumlah sayuran tidak tentu, namun banyak yang salah kaprah mengira bahwa Cap Cai harus mengandung 10 macam sayuran karena secara harfiah adalah berarti "sepuluh sayur". Cap di dalam dialek Hokkian juga berarti "sepuluh" dan Cai berarti sayur.

Cap Cai kadangkala dimasak dengan baso ikan, baso sapi, udang, dan daging ayam. Di Amerika Cap Cai disebut Chop-Suey dan konon diakui sebagai bagian ciptaan kuliner para imigran China di Amerika, dan merupakan salah satu ciptaan masakan Chinese-American.

Sejarah Cap Cai memang agak rancu. Versi terpopuler adalah ketika duta besar China Li Hung, mengunjungi kota New York pada tanggal 29 Agustus 1896, tukang masaknya berusaha menciptakan masakan yang bisa diterima oleh diplomat China dan Amerika. Dan menurut catatan sejarah, Cap Cai memang terhidang sebagai salah satu menu.

Versi lain yang lebih kuno, menyebutkan bahwa makanan ini berasal dari dinasti Qing. Dimana jeroan di masak bersama sayur-sayuran untuk membuatnya tampil lebih elok dan lebih sehat.

Ada versi lain yang menyebutkan masakan ini diciptakan oleh kaum Imigran China yang berkelana kemana-mana dan disebut juga masakan yang ditentukan oleh nasib. Apapun sayur yang didapat hari ini, dipotong semua dan dimasak jadi satu. Kalau cuma ada 2 sayur, maka cap cai-nya cuma terdiri 2 sayur itu. Tapi kalau nasib baik hari ini dan punya sayur lebih, maka Cap Cai menjadi lebih mewah. Sederhana dan praktis.

Di China sendiri, masakan ini tidak dikenal. Hanya di Taishan, yang mayoritas penduduknya berkelana dan menjadi kaum imigran, masakan Cap Cai dikenal.

Lumpia



Lumpia atau kadangkala dieja sebagai lun pia (Hanzi: 潤餅, hanyu pinyin: run bing) adalah sejenis penganan tradisional Tionghoa. Lumpia sendiri adalah dialek Hokkian dari pelafalan runbing dalam dialek Utara. Makanan tradisional tionghoa ini dalam bahasa Inggris disebut spring roll dan bisa dijumpai juga di Vietnam, Filipina, dan Indonesia. Hanya di Filipina dan di Indonesia saja kudapan ini disebut lumpia. Di Vietnam disebut cha gio, sedang dalam bahasa Mandarin namanya adalah chun yuan – kadang-kadang diucapkan seperti chun juan atau chun cuen. Penamaan spring roll menurut etimologi berasal dari tradisi menyantap kue gulung (roll) ini pada Hari Raya Imlek yang juga lazim disebut Spring Festival. Ini adalah terjemahan langsung dari chun (musim semi) dan yuan (gulung).

Di Indonesia, lumpia terkenal sebagai makanan khas Semarang, tentunya cara pembuatan dan bahan-bahannya sudah mengalami lokalisasi.

Di Jakarta ada lumpia yang mirip dengan lumpia semarang, tetapi rebungnya diganti bangkuang. Lumpia Jakarta hampir selalu tampil dalam versi goreng. Cocolannya sambal kacang yang mirip dengan sambal untuk nasi uduk.

Di Bogor ada lumpia bakar yang sangat unik. Isinya mirip lumpia jakarta – yaitu bangkuang, ebi, telur – tetapi ditambah potongan tahu. Bentuknya seperti bantal segi empat, berukuran besar. Lumpia bogor dipanggang di atas besi panas, sehingga menghasilkan citarasa yang khas.

Di Medan, jenis lumpia yang populer disebut popiah – yaitu lumpia basah berukuran besar. Popiah bukan lagi jajanan atau kudapan, melainkan sudah merupakan makanan utama karena porsinya yang besar. Popiah berasal dari suku Hokchia. Kulitnya seperti lumpia, tetapi lebih lebar. Isinya sangat kaya antara lain adalah: kepiting, udang, rebung, orak-arik telur, remukan kacang tanah, dan lain-lain.

Di kalangan masyarakat keturunan Indonesia di Negeri Belanda, lumpia juga merupakan jajanan populer. Karena di sana sulit mendapat rebung atau bangkuang, biasanya diisi dengan tauge, orak-arik telur, dan irisan ham.

Berbagai kreativitas pedagang makanan di Indonesia menampilkan lumpia berisi tauge, potongan kentang rebus, dan lain-lain. Di Indonesia kita juga punya jajanan bernama dadar gulung yang secara penampilan mirip lumpia. Dibuat dari semacam serabi tipis dari tepung beras atau terigu, biasanya memakai daun suji agar berwarna hijau, diisi dengan unti yang terbuat dari parutan kelapa dimasak dalam gula kelapa, kemudian digulung membentuk paket.

Di dunia memang ditemukan berbagai sajian yang mirip lumpia. Samosa yang umum dijumpai di India dan negara-negara Timur Tengah juga mirip lumpia, tetapi berbentuk tetrahidral dengan kulit yang lebih tebal, sehingga lebih renyah. Samosa diisi dengan kentang atau kambing cincang berbumbu kari.

Di Turki, dan juga negara-negara di sekitar Laut Tengah, ada semacam kebab yang digulung dalam roti tipis dan disebut durum kebab alias kebab gulung. Shawarma, jenis kebab lain yang dikemas dalam roti pita seperti kantung juga akhirnya tampil mirip lumpia atau burrito.

Burrito atau taco yang asal Meksiko juga mirip lumpia secara bentuk dan konsep. Kemiripan burrito atau taco dengan lumpia membuat orang-orang Spanyol dan Meksiko menyebut lumpia sebagai tacos chinos.

Burrito dan taco adalah dua istilah yang dapat saling dipertukarkan. Kalau besar disebut burrito, kalau kecil dinamai taco. Pembungkusnya disebut tortilla, yaitu roti tipis yang dibuat dari gandum atau tepung jagung. Tortilla lebih tebal daripada kulit lumpia. Di atas tortilla diatur semua bahan isian, lalu digulung membentuk paket seperti lumpia. Pada umumnya, isi burrito adalah kacang merah (refried beans), irisan daging panggang (sapi atau ayam), guacamole (bubur alpukat), dan salsa (sambal tomat). Nasi goreng Meksiko juga sering dipakai sebagai isi untuk menggantikan refried beans. Ada juga yang isinya hanya refried beans dengan keju yang dilelehkan.

Burrito atau taco biasa disajikan sudah dalam bentuk tergulung. Tetapi, hampir semua sajian Meksiko selalu disajikan dengan tortilla. Artinya, tortilla diisi dengan lauk-pauk dan kemudian menggulungnya. Tortilla juga bisa dimakan seperti roti pendamping hidangan utama.

Di Tiongkok sendiri justru tidak terlalu sering dijumpai lumpia. Yang paling sering justru ketemu kulit bebek peking yang garing renyah digulung dalam roti tipis dengan irisan ketimun, daun bawang, dan saus plum. Mirip lumpia, tetapi bukan lumpia.

Di Hong Kong, lumpia goreng merupakan salah satu sajian dim sum yang populer. Lumpia goreng juga sering tampil sebagai hidangan pembuka di restoran-restoran di Hong Kong.

Masyarakat Vietnam menggunakan lumpia sebagai makanan sehari-hari. Yang paling terkenal bagi wisatawan adalah cha gio yang artinya lumpia babi cincang. Ukurannya kecil-kecil, sebesar jempol orang dewasa. Dapat dimakan sebagai hidangan pembuka, dengan cocolan sambal manis dari cabe merah dan bawang putih. Biasanya, supaya tidak terlalu machtig, cha gio dibungkus dulu dengan daun selada sebelum dicocol sambal dan disantap.

Di Vietnam, hampir semua sajian dihidangkan dengan banh trang (kulit lumpia, terbuat dari tepung beras atau tepung singkong) – mirip dengan tortilla yang menyertai hampir semua sajian Meksiko. Di meja makan tertebar piring-piring berisi bihun, berbagai jenis sayur, dan masakan daging atau ikan. Banh trang dibasahi dengan semprotan air, diisi dengan isian yang disukai, kemudian digulung seperti popiah.

Tahu



Tahu adalah kata serapan dari bahasa Hokkian (tauhu) (Hanzi: 豆腐, hanyu pinyin: doufu) yang secara harfiah berarti "kedelai yang difermentasi". Tahu pertama kali muncul di Tiongkok sejak zaman Dinasti Han sekitar 2200 tahun lalu. Penemunya adalah Liu An (Hanzi: 劉安) yang merupakan seorang bangsawan, cucu dari Kaisar Han Gaozu, Liu Bang yang mendirikan Dinasti Han.

Tahu adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan dan diambil sarinya. Di Jepang dikenal dengan nama tofu. Dibawa para perantau China, makanan ini menyebar ke Asia Timur dan Asia Tenggara, lalu juga akhirnya ke seluruh dunia.

Sebagaimana tempe, Tahu dikenal sebagai makanan rakyat. Beraneka ragam jenis tahu yang ada di Indonesia umumnya dikenal dengan tempat pembuatannya, misalnya tahu Sumedang dan tahu Kediri. Aneka makanan dari tahu antara lain tahu bacem, tahu bakso, tahu isi (tahu bunting), tahu campur, pergedel tahu, krupuk tahu, dan lain-lain.

Cahkwe



Cahkwe (Hanzi: 油條, hanyu pinyin: you tiao, chinese long bread) adalah salah satu penganan tradisional Tionghoa. Cahkwe adalah dialek Hokkian yang berarti hantu yang digoreng. Salah satu varian dari cahkwe adalah odading (kue bantal karena bentuknya mirip bantal ukuran mini) yang banyak dijual di daerah jawa barat sampai jakarta. Bedanya kalau cahkwe berasa gurih, odading manis. Kalau di Jawa Tengah namanya kue bolang baling. Orang barat sering menjulukinya Chinese Doughnut.

Asal usul Cahkwe sarat akan nilai sejarah. Di Jaman Dinasti Song, suku Jin dari Utara sangat kuat, mereka beberapa kali menyerbu negeri Song. Kemudian Kerajaan Song dikalahkan dan kaisar Wei dan Xin ditangkap. Kemudian raja Gang mendirikan dinasti Song Selatan.

Di masa kaisar Gao dari Song Selatan, sekali lagi diserbu secara besar-besaran oleh suku Jin dan menduduki sebagian besar daerah utara dari sungai Chang Jiang (Yang Tse).

Untungnya ada seorang jenderal yang bernama Yue Fei (Hanzi: 岳飛, bahasa Hokkian Gak Hui, sering menjadi inspirasi kepahlawanan dalam serial silat) memimpin tentara Song untuk melawannya dengan gigih, disamping itu dia melindungi ibu kota Song Selatan. Yue Fei dengan patriotiknya membela negaranya dan telah mengambil kembali banyak daerah Song yang telah diduduki oleh tentara kuda Jin yang terkenal.

Sayang sebelum dia dapat mengambil kembali ibu kota Song yang dahulu, hanya tinggal kira-kira 22 kilometer lagi jaraknya, Gak Hui tiba-tiba dipanggil pulang oleh raja Gao.

Raja Gao terhasut kata-kata Perdana Menteri Qin Kuai (Hanzi: 秦檜, bahasa hokkian Chin Kwe) yang membisiki raja dengan perkataan bahwa Gak Hui kalau menang akan mengundang kembali kaisar Wei dan Xin yang masih ditangkap oleh suku Jin untuk naik tahtanya kembali. Maka kalau raja tidak mengambil tindakan sekarang, kedudukan raja Gao akan susah dipertahankan. Chin Kwe juga mengatakan bahwa Jenderal Gak Hui akan memberontak dan menganjurkan agar Gak Hui ditangkap segera kalau datang, lalu dibunuh.

Kematian Gak Hui membuat marah semua rakyat dan menganggap Chin Kwe sebagai pengkhianat negara. Ada orang yang membenci Chin Kwe membuat model manusia dari tepung terigu yang mencerminkan Chin Kwe dan istrinya, disatukan jadi satu, lalu di goreng dan dimakan. Dahulu makanan ini dinamakan Yu –Zha (goreng dengan minyak) Qin Kuai, lalu diringkas menjadi Yu Zha Kuai (Hokkian Yu Cah Kwe), menjadi lebih singkat lagi Cah kwe atau Yutiao (Mandarin). Ini dilakukan sebagai simbolisasi kebencian rakyat atas Chin Kwe.

Di China, cahkwe ini populer sebagai makanan untuk sarapan pagi bersama-sama susu kedelai. Sementara di indonesia biasa dimakan dengan saus (asem-pedes- manis) atau dalam bentuk irisan sebagai pelengkap dalam bubur ayam.